Senandung di Balik Jendela
BAB I : Bayangan Senja dan Hening yang Membeku
Senja
melintasi jendela, menyemburat oranye sendu mewarnai dinding kamar Ema. Di
balik jendela, rintik hujan mulai menari-nari, menciptakan melodi sendu yang
seolah mengerti perasaannya. Ema, dengan sweater rajut kebesaran yang
menghangatkan tubuhnya, hanya bisa memandang kosong di balik jendela.
Kesunyian
ini, sudah menjadi teman setianya sejak beberapa bulan terakhir. Sudah enam
bulan berlalu sejak hari itu, hari ketika Ibunya pergi untuk selamanya. Kini
usia Ema 18 tahun, semenjak kepergian ibu dan ayahnya, rumah ini terasa begitu
hampa. Dulu, setiap sudut ruangan dipenuhi canda dan tawa, aroma masakan ibu,
cerita sebelum tidur, dan bincang dengan segala hal dengan Ayah. Sekarang,
hanya ada hening dan luka yang menyesakkan dada.
Rasa
sedih kehilangan keduanya menyisakkan duka dan air mata yang begitu mendalam.
Rasa itu membuatnya meruntu kesepian akan hadirnya mereka dalam hidupnya. Ia dulu
ditemani seorang Kakak yang telah berkeluarga saat ini. Ia merasa sendiri,
mencoba mengikhlaskan kesedihan berkepanjangan itu.
Secangkir
jahe hangat menghangatkan diri dari dingin. Aroma jahe yang selalu disiapkan
Ibunya, kini terasa hambar. Ia mencoba mengingat wajah Ibunya, senyumnya,
suaranya…namun semakin ia berusaha, semakin kabur bayangan itu.
“Ibu…” bisiknya lirih, suaranya tenggelam
dalam gemercik hujan di luar. Ia merasa seolah terdampar di pulau sunyi, yang
terisolasi dari dunia luar. Bahkan, sinar matahari pun terasa enggan menyapa
kamarnya.
Ema,
menghela napas panjang, mencoba menenangkan gejolak sedih di dadanya. Ia tahu,
Ibunya tidak ingin melihatnya seperti ini, yang terbalut rasa kesedihan. Namun,
kehilangan itu terasa begitu berat, begitu menganga, begitu hampa, hingga ia
merasa sesak tak mampu untuk bangkit lagi.
Ayahnya
juga telah lama meninggalkannya sejak berumur 15 tahun. Dongeng yang selalu
dibacakkan saat menjelang tidur, selalu membuatnya teringat di kepalanya. Ema sedih akan kehilangan seorang yang
dicintai. Bahkan saat ingin tidur, ia selalu terbayang-bayang dari banyak hal
bersama keduanya. Ia mencoba tidur dan memegang foto keluarga mereka, sambil
meringguk menahan tetes air matanya.
BAB II: Mencari Pelipur Lara dalam Kenangan
Ema
bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju rak buku. Rak-rak buku adalah saksi
bisu dari perjalanan hidupnya, menyimpan berbagai macam cerita. Jarinya
menyusuri setiap deretan buku-buku yang sudah lama tidak ia sentuh. Matanya
berhenti pada sebuah buku bersampul biru lusuh, buku kumpulan puisi karya
Kahlil Gibran, hadiah dari kedua orangtuanya saat ulang tahunnya yang ke-12.
Dibukanya
halaman pertama, dan matanya tertumbuk pada sebuah puisi yang dilingkari dengan
tinta biru oleh Ibunya :
“Hatimu dan aku, adalah dua dawai
biola
Terpisah jauh, namun bergetar oleh
nada yang sama
Dalam sunyi, kita mencari harmoni
Dalam cinta, kita menemukan melodi
sejati”
Air
mata menetes jatuh ke buku itu. Ia teringat jelas momen saat Ibunya memberikan
buku itu. Mereka duduk berdua di taman samping rumah, di bawah pohon rindang
yang selalu menjadi tempat favorit mereka. Ibunya tersenyum lembut dan berkata,
“Ema, dalam kesunyian sekalipun, kamu
tidak pernah benar-benar sendiri. Cinta Ibu dan Ayah akan selalu menjadi pelita
yang menerangi jalanmu, membimbingmu melewati kegelapan.”
Kata-kata
itu terasa begitu menenangkan, begitu menghangatkan. Ema memeluk buku itu
erat-erat, seolah memeluk Ibunys sendiri. Ia menyadari, meskipun Ibunya telah
pergi secara fisik, cinta dan kenangan tentangnya akan selalu hidup di dalam
hatinya. Kesunyian ini mungkin tidak akan pernah hilang sepenuhnya, namun ia
tidak harus menghadapinya sendirian. Ia memiliki kenangan indah, cinta yang
abadi, dan harapan akan masa depan lebih baik.
BAB III : Melodi Kesedihan dan Harapan di Tuts Piano
Ema
meletakkan buku itu di atas meja dengan hati-hati, seolah meletakkan sebuah
pusaka berharga. Ia berjalan menuju sudut ruangan, tempat piano tua berwarna
cokelat tua berdiri dengan anggun. Piano itu warisan dari kakeknya, seorang
pianis terkenal yang selalu menginspirasi Ibunya. Ibunya selalu memintanya
untuk bermain piano setiap kali ia merasa sedih, karena ia percaya bahwa musik
memiliki kekuatan untuk menyembuhkan luka batin.
Ema
duduk di depan piano. Kursinya berderit pelan, memecah keheningan yang
mencekam. Jarinya menyentuh tuts-tuts putih dan hitam itu dengan lembut, seolah
menyapa teman lama yang telah lama ditinggalkan. Ia merasakan dinginnya gading
di bawah ujung jarinya, mengingatkannya pada sentuhan
lembut tangan Ibunya.
Ema
menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian. Ia memejamkan mata
dan membayangkan wajah Ibunya, senyumnya yang menyemangati. Ia membuka matanya
kembali dan mulai memainkan sebuah melodi sederhana. Melodi itu adalah
komposisi buatannya sendiri, yang ia beri judul "Kesunyian yang
Bersemi".
Nada-nada
itu mengalir dari ujung jarinya, menciptakan suara yang syahdu dan mengharukan.
Melodi itu adalah ungkapan kesedihan, kerinduan, dan harapan yang bercampur
menjadi satu. Ema memejamkan mata, membiarkan musik itu membawanya ke masa
lalu, ke saat-saat bahagia bersama Ibunya. Ia teringat saat mereka berdua
bernyanyi bersama di depan piano, suara mereka saling bersahutan menciptakan
harmoni yang indah. Ia teringat saat Ibunya mengajarinya bermain piano dengan
sabar, selalu memberikan pujian setiap kali ia berhasil memainkan sebuah lagu
dengan benar.
Air
mata terus mengalir di pipi Ema, namun kali ini air mata itu terasa berbeda.
Bukan lagi air mata kesedihan yang mendalam, melainkan air mata kerinduan dan
syukur. Ia bersyukur atas semua cinta dan kenangan indah yang telah diberikan
Ibunya. Ia bersyukur karena telah memiliki seorang ibu yang begitu penyayang,
begitu sabar, dan begitu menginspirasi.
BAB IV : Senandung Harapan di Tengah Malam
Dibalik
jendela, hujan mulai mereda. Gemericiknya
semakin lirih, seolah mengucapkan selamat tinggal pada hari yang telah berlalu.
Langit mulai memperlihatkan sedikit warna ungu dan merah muda, pertanda
matahari akan segera terbit. Ema terus bermain piano, menciptakan senandung di
tengah kesunyian. Senandung tentang cinta, kenangan, dan harapan akan hari esok
yang lebih baik.
Ia
menyadari, kesunyian ini mungkin tidak akan pernah hilang sepenuhnya, namun ia
bisa belajar untuk berdamai dengannya. Ia bisa mengisi kesunyian itu dengan
kenangan indah, dengan cinta yang abadi, dan dengan harapan akan masa depan
yang lebih cerah. Ia bisa menggunakan musik sebagai sarana untuk mengungkapkan
perasaannya, untuk berbagi kesedihannya, dan untuk
menginspirasi orang lain.
Ema
membuka matanya dan tersenyum tipis. Ia merasa sedikit lebih ringan, sedikit
lebih kuat. Ia tahu, Ibunya akan selalu ada bersamanya, di dalam hatinya,
menemaninya dalam setiap langkah. Ia tahu, ia tidak sendirian. Ia memiliki
cinta, kenangan, dan harapan yang akan selalu menuntunnya di
tengah kegelapan.
Malam
itu, Ema tertidur lelap, diiringi sisa-sisa gemericik hujan dan bayangan senyum
Ibunya. Kesunyian tak lagi terasa menakutkan, sebab di dalam hatinya, melodi
cinta tak pernah berhenti bergetar. Senandung di balik jendela Ema, kini bukan
lagi senandung kesedihan, melainkan senandung harapan. Senandung yang akan
terus bergema, menginspirasi, dan menyembuhkan luka-luka di hatinya. Senandung
yang akan membawa Ema menuju masa depan yang lebih cerah. Ia berjanji pada
dirinya sendiri, ia akan terus bermain piano, ia akan terus menjaga kenangan
tentang Ibunya, dan ia akan terus berusaha untuk menjadi orang
yang lebih baik.