Pemanfaatan Limbah Kacang Tanah Sebagai Bahan Bakar Kendaraan Ramah Lingkungan

PEMANFAATAN LIMBAH KACANG TANAH SEBAGAI BAHAN BAKAR KENDARAAN RAMAH LINGKUNGAN
Kacang tanah (Arachis hypogea) termasuk jenis polong-polongan yang tumbuh di lahan kering dengan sistem tumpang sari dengan jagung maupun secara monokultur. Kacang tanah menjadi sumber daya lokal Madura yang sangat diminati oleh masyarakat setempat. Keberadaan kacang tanah yang tersebar luas di pulau Madura memungkinkan pulau Madura menjadi produsen terbesar di Indonesia. Tanah Madura yang subur membuat kacang tanah dapat hidup banyak dan berkualitas. Oleh karena itu, sebagian masyarakat Madura menjadikan kacang tanah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Banyak sekali kandungan yang terdapat pada kacang tanah diantaranya lemak, protein, vitamin E, selulosa, lignin, dan lainnya. Vitamin E yang terdapat pada kacang tanah dapat menjadi antioksidan serta berguna bagi efek sirkulasi, jantung, pembuluh darah, dan kesehatan kulit. Kandungan protein pada kacang tanah lebih tinggi dari daging, telur, dan kacang soya. Selain itu kacang tanah juga memiliki selulosa yang tinggi dan kaya juga dengan lemak. Kacang tanah bermanfaat sebagai penurun tekanan darah tinggi dan kandungan kolestrol dalam darah. Akan tetapi, kacang tanah tidak dianjurkan untuk penderita kanker payudara dan yang mempunyai penyakit jerawat.
Pulau Madura yang menjadi produsen terbesar untuk kacang tanah menjadikan kacang tanah sebagai bahan pokok. Sebagian desa di Madura menjadikan kacang tanah sebagai pengganti padi. Hal tersebut terjadi karena karbohidrat kacang serta protein kacang juga tinggi. Selain dimakan sendiri kacang tanah di Madura dijual ke Pulau Jawa dan bagian Indonesia lainnya.
Sejauh ini pemanfaatan kacang tanah (Arachis hypogea) masih terbatas pada pemanfaatan bijinya saja. Didalam suatu industri makanan yang memerlukan kacang tanah sebagai bahan dasar pembuatannya, membuat limbah kulit kacang tanah masih banyak terbuang. Padahal tidak menutup kemungkinan bahwa di dalam kulit kacang terdapat kandungan yang sangat penting. Pemanfaatan kulit kacang tanah tidak menutup kemungkinan akan setara dengan bijinya. Kulit kacang tanah jika kita olah dengan baik akan bernilai ekonomis dan akan diakui oleh negara.
Sebelumnya kita harus mengetahui kandungan yang terdapat pada kulit kacang tanah. Kulit kacang tanah kaya akan selulosa yang lebih tinggi dari limbah tanaman diantaranya, bonggol jagung, serbuk kayu, sengon, dan ampas tebu. Senyawa selulosa yang ada di dalam kulit kacang tanah mencapai 63,5 persen. Semakin banyak selulosa yang dihasilkan maka potensi untuk menjadikannya bioetanol sebagai bahan bakar ramah lingkungan semakin besar. Selulosa yang tinggi dapat menjadikan bahan bakar ramah lingkungan dengan jumlah yang tinggi. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari terbuangnya limbah kulit kacang tanah dan pencemaran lingkungan karena limbah kulit kacang tanah. Selain itu, dapat meningkatkan pendapatan karena bernilai ekonomis. Pemanfaatan limbah kulit kacang tanah dapat menggantikan bahan bakar yang tidak terbarukan. Dengan adanya inovasi seperti ini, kita dapat diuntungkan dengan hasil bahan bakar ramah lingkungan / bioetanol. Selain itu, bioetanol juga dapat digunakan terus menerus tanpa takut habis karena bahannya dari alam.
Pada era globalisasi seperti sekarang ini, keamanan energi di Indonesia berada diambang batas dan akan menghadapi krisis energi dalam waktu singkat. Biofuel seperti bioethanol dan biodiesel sangat menjanjikan terkait keberlanjutan karena mereka dapat diproduksi dari bahan alam atau tanaman. Dapat kita lihat bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang paling kaya akan sumber keanekaragaman hayatinya dan didukung dengan iklim yang sangat baik untuk menumbuhkan berbagai tanaman termasuk tanaman yang dapat menghasilkan energi alternatif. Akan tetapi, pemerintah harus membuat kebijakan yang andal karena produksi dan implementasi biofuel tidak hanya mempengaruhi ketersediaan energi tetapi juga keseimbangan sosial-ekonomi dan lingkungan. Jika tidak dijaga dengan baik, maka akan terjadi deforestasi dan kerusakan sumber daya alam yang digunakan sebagi bahan bakar ramah lingkungan.
Pada tahun 2018, penggunaan bensin dan minyak diesel mencapai lebih dari 80 kuadriliun Btu dari total konsumsi energi sekitar 115 kuadriliun Btu. Selain itu, ada masalah lagi yaitu ketersediaan dan distribusi yang tidak merata dan emisinya sangat tinggi apabila diaplikasikan pada kendaraan lama. Jika kita mengganti kendaraan lama dengan kendaraan baru karena emisinya lebih rendah itu juga tidak mungkin bagi pemerintah. Jadi mau tidak mau kita harus membuat inovasi baru dari bahan alam dan lokal. Kita lihat dari kandungan kulit kacang tanah mengandung banyak selulosa yang sangat berguna untuk bahan bakar bioethanol.
Kulit kacang tanah yang akan dibuat bioetanol harus digiling terlebih dahulu. Kulit kacang tanah tersebut digiling sampai menjadi tepung. Dalam proses tersebut dilakukan proses pendahuluan yaitu pretreatment dan hidrolisis. Proses tersebut merupakan tahapan yang paling penting untuk mempengaruhi perolehan yield etanol. Proses pretreatment dilakukan untuk mengkondisikan bahan–bahan lignoselulosa baik dari segi struktur dan ukuran.
Pada produksi bioetanol dari bahan lignoselulosa yang digunakan adalah selulosanya sehingga lignin harus dihilangkan. Senyawa pengikat berupa lignin menyebabkan bahan-bahan lignoselulosa sulit dihidrolisa. Lignin sangat kuat melindungi selulosa dan juga dapat menghambat pertumbuhan mikroba dalam proses fermentasi. Proses penghilangan lignin dari serat-serat selulosa disebut delignifikasi atau pulping. Delignifikasi yang umum dilakukan adalah dengan menggunakan larutan NaOH dengan konsentrasi rendah agar mempercepat reaksi hidrolisis.
Hidrolisis merupakan proses pemecahan gula kompleks menjadi gula sederhana. Pada proses hidrolisis, selulosa diubah menjadi sukrosa dan selanjutnya menjadi gula-gula sederhana seperti glukosa. Hidrolisis dibagi menjadi 2 yaitu hidrolisis asam dan hidrolisis enzimatik. Dalam kasus ini, kita menggunakan hidrolisis enzimatik. Hidrolisis selulosa secara enzimatik memberi yield etanol sedikit lebih tinggi dari metode hidrolisis asam. Hidrolisis asam merupakan metode yang sederhana dan memerlukan waktu yang singkat. Akan tetapi, asam yang tinggi contohnya HCl dan H2SO4 akan membuat korosif pada lingkungan dan alat yang digunakan. Selain itu, juga membutuhkan energi yang tinggi dalam prosesnya.
Meminimalisir hal tersebut terjadi kita menggunakan hidrolisis enzimatik untuk menghidrolisis glukosa. Pembuatan bioetanol yang menggunakan hidrolisis enzimatik tidak membuat limbah merusak lingkungan dan tidak membutuhkan suhu tinggi dalam perlakuannya. Selanjutnya adalah proses fermentasi. Fermentasi adalah proses perubahan dari glukosa menjadi etanol. Penguraian dari kompleks menjadi sederhana dengan bantuan mikroorganisme sehingga menjadi energi. Mikroorganisme yang digunakan adalah khamir atau jamur.
Bioetanol adalah suatu cairan biokimia pada proses fermentasi gula dari sumber karbohidrat yang menggunakan bantuan mikroorganisme. Bioetanol merupakan salah satu jenis biofuel (bahan bakar cair dari pengolahan tumbuhan). Dengan proses tadi kita dapat mengubah kulit kacang tanah menjadi bioetanol yang dapat menjadi bahan bakar ramah lingkungan dan dapat mengurangi limbah kulit kacang tanah di lingkungan setempat.
Menurut Stephanus mahasiswa UGM, dalam 10 gram kulit kacang kering mampu menghasilkan 4 ml bioetanol. Berdasarkan data Badan Pusat Statistika, rata-rata produksi kacang tanah kurang lebih 700 ribu ton setiap tahunnya. Jika bobot kulit kacang kering sebesar 12-13 persen dari massa total kacang, maka ada sekitar 90 ribu ton kulit kacang yang dapat dimanfaatkan menjadi bioetanol dan menghasilkan sekitar 36 juta liter bioetanol setiap tahunnya.
Dihasilkan nya 36 juta liter setiap tahunnya diharapkan dapat membantu ketergantungan masyarakat dengan bahan bakar yang tidak terbarukan. Energi yang dapat diperbarui seperti bioetanol ini dapat digunakan untuk bahan bakar kendaraan. Kendaraan yang menggunakan bahan bakar alternatif akan membuat kendaraan tersebut tidak cepat rusak dan polusinya tidak berbahaya karena ramah lingkungan.
Untuk menghindari pencemaran lingkungan dari limbah kulit kacang tanah, kita sebagai mahasiswa bisa membuat bioetanol sebagai terobosan terbaru. Produk tersebut dapat menggantikan bahan bakar fosil yang tidak terbarukan menjadi bahan bakar yang terbarukan dan ramah lingkungan. Output yang dapat kita ambil adalah limbah kacang tanah tidak berserakan lagi dan sudah dimanfaatkan dengan optimal serta dapat menggantikan bahan bakar yang tidak terbarukan menjadi terbarukan dan ramah lingkungan.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

recent posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Text Widget

Pengikut

Pengunjung

Cari Blog Ini

  • ()
  • ()
Tampilkan selengkapnya

Follow by Email

Translate

Download